“Dan
bersegeralah menuju ampunan Allah yang memiliki surga seluas langit dan bumi
yang dijanjikan untuk orang-orang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan
hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang
lain, Allah menunjuki orang-orang yang suka berbuat kebajikan.” (QS. Ali
‘Imran: 133-134)
Salah satu
ciri-ciri orang yang bertaqwa seperti yang digambarkan dalam ayat Alquran yang
mulia itu adalah orang yang suka menahan amarahnya. Dan balasannya tidak tanggung-tanggung: SURGA SELUAS
LANGIT DAN BUMI!!
Marah dapat
merusak iman sebagaimana jadam merusak manisnya madu. Sekuat apapun iman
seseorang, namun apabila dia cepat marah, dapat dipastikan imannya akan rusak. Your biggest enemy is yourself, right? Tidaklah
dikatakan kuat seseorang yang cepat marah lalu bertindak anarkis sebagai buntut
dari amarahnya yang meledak-ledak itu. Tetapi, orang kuat adalah orang yang
mampu menguasai diri dan hawa nafsunya ketika ia marah.
Sahabat, pernah ada seseorang yang meminta nasihat
Rasulullah (seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah), lalu Rasulullah
bersabda: “janganlah engkau marah”, dan
beliau mengulanginya sekali lagi.
Namun, hal
ini bukan berarti kita tidak boleh marah sama sekali. Amarah adalah salah satu
anugerah Allah swt. yang dikaruniakan kepada kita. Tugas kita hanyalah menempatkan amarah itu pada tempat
yang sesuai. Lebih baik lagi jika marah kita memberikan manfaat bagi orang lain
tanpa harus menzaliminya. Rasulullah saw. memang dikenal sebagai orang yang
lemah lembut, namun wajah beliau yang mulia itu bisa saja mendadak merah padam
karena meredam amarahnya. Beliau akan marah ketika keharuman Allah swt.
dilanggar. Dari ‘Aisyah ra. beliau menceritakan: “…dan Rasulullah saw. tidak pernah marah sekalipun kecuali ketika
keharuman Allah dilanggar, beliau marah karena Allah.” [Hadits
Riwayat Bukhari 6/419-420 dan Muslim 2327]
Rasulullah pernah
marah, dan marahnya beliau ini selalu pada saat yang tepat dengan alasan yang
tepat serta hasilnya bermanfaat. Seperti pada saat pembagian harta setelah
perang Hunain berakhir. Kaum Anshar menyebut Rasul tidak adil. Rasul marah dan berkata: "Jika Allah dan RasulNya tidak adil maka siapa lagi yang adil?”.
Marahnya Rasul singkat, bermakna mendalam, tidak menyakiti bahkan menyadarkan
orang yang dimarahinya. Jadi, hal terpenting ketika kita –-memang—harus marah
adalah bagaimana marahnya kita mampu membuat orang menjadi lebih baik tanpa harus
menzaliminya. Sangat tidak disarankan untuk banting-banting
kursi, unjuk kekuatan, dan lain sebagainya. Itu hanya akan membuang energi kita
secara percuma, tidak membuat amarah meredam, tapi malah semakin berapi-api.
Sahabat
yang dirahmati Allah, cara terbaik untuk menyikapi amarah adalah
dengan meredam amarah sebisa mungkin. Bukankah Allah telah memuji dan
menjanjikan balasan yang luar biasa bagi orang-orang yang suka menahan
amarahnya? Bukankah RasulNya adalah sosok yang hampir tidak pernah marah,
sementara sosok itu kita akui sebagai uswatun
hasanah (teladan yang baik) bagi kita? Bukankah penelitian ilmiah telah
membuktikan bahwa marah (umpatan, caci-maki, dsb.) dapat membuat susunan H2O
(air) berantakan; sementara 70% dari penyusun tubuh kita adalah air?
Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang dapat menahan
angkara murkanya padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan
memanggilnya di hadapan khalayak guna disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk Allah nikahkan dia
dengannya." [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398]
Masih ragu-ragu untuk menahan amarah? J
Karena marah itu berasal dari hasutan syaitan yang terus membisikkan
kejahatan kepada kita, maka kita haruslah melawannya dengan memohon pertolongan
kepada Allah. Selain itu, karena syaitan diciptakan oleh
Allah swt. dari nyala api, maka harus dilawan dengan air. Jadi, menahan amarah
dapat dilakukan dengan cara beristighfar (memohon ampun kepada Allah swt.),
membaca ta’awudz (a’udzubillahi minasy
syaithanir rajiim), berwudhu’ dan pindah dari tempat tersebut. Jangan
biarkan kita berada di tempat yang bisa memancing kemarahan tersebut, dan
sebaiknya jika kita sudah terlanjur marah, ada baiknya kita bertaubat kepada
Allah swt.
Wallahu
a’lam.
Source:
KH
Abdullah Gymnastiar: Manajemen Qalbu.
Almanhaj.or.id: Berjalan di Atas Manhaj As Salafush Shalih.
0 komentar:
Post a Comment